Tahun Baru dan Resolusi yang Sering Kandas: Santai, Kita Coba Lagi!
Di minggu pertama, energi masih membara. "Tahun ini aku akan lebih produktif!" seru seseorang, hanya untuk ketiduran tiga jam kemudian setelah makan siang. "Aku akan lebih sehat!" ujar yang lain, sambil menggigit gorengan dengan penuh kesadaran. Harapan selalu besar di awal, tapi sering kali tergerus oleh kenyataan—dan itu wajar.
Mungkin, alih-alih menetapkan daftar panjang resolusi yang membebani, kita bisa melihat awal tahun ini dengan lebih santai. Tidak perlu terburu-buru menjadi versi terbaik dari diri kita. Cukup menjadi sedikit lebih baik dari kemarin. Jika perubahan besar terasa menakutkan, kita bisa mulai dengan langkah-langkah kecil:
Pertama, meluangkan waktu untuk bersyukur. Kadang kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum tercapai, sampai lupa menghargai hal-hal kecil yang sudah kita punya. Bisa bangun pagi tanpa menunda alarm tujuh kali? Syukuri. Dapat tempat parkir strategis di mal saat akhir pekan? Itu keajaiban kecil. Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai harapan, tapi ada banyak alasan untuk tetap merasa cukup—meskipun sesederhana kopi yang tidak tumpah ke baju putih.
Lalu, mengurangi waktu menatap layar. Kita semua tahu betapa cepatnya waktu berlalu saat scrolling media sosial. Awalnya hanya ingin mengecek satu notifikasi, tahu-tahu sudah sejam berlalu dan kita masih menonton video resep yang entah kapan akan dicoba. Mungkin tahun ini bisa mulai menguranginya, menggantinya dengan membaca buku, berbincang dengan orang terdekat, atau sekadar menatap langit dan membiarkan pikiran mengembara tanpa distraksi digital.
Jangan lupakan kebaikan-kebaikan kecil. Banyak orang berpikir bahwa untuk menjadi pribadi yang lebih baik, kita harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Padahal, cukup dengan tersenyum pada orang lain, memberi komentar positif, atau mendengarkan seseorang tanpa buru-buru menyela dengan, "Aku juga pernah tuh!" sudah merupakan bentuk kebaikan yang berarti. Siapa tahu, hal sederhana itu bisa mengubah hari seseorang—atau setidaknya, membuat suasana lebih hangat.
Selain itu, bergerak lebih banyak. Bukan berarti harus langsung daftar gym dan bertekad punya perut kotak-kotak, tapi setidaknya jangan sampai perjalanan dari kasur ke meja kerja sudah terasa seperti maraton. Coba naik tangga sekali-sekali, jalan kaki sedikit lebih jauh, atau sekadar meregangkan badan agar tidak terasa seperti robot yang perlu pelumas.
Dan yang paling penting, memaafkan diri sendiri. Kadang kita terlalu keras pada diri sendiri, menyesali kesalahan kecil seolah-olah dunia akan runtuh. Padahal, seperti aplikasi yang kadang error, kita juga butuh restart. Jika ada yang tidak berjalan sesuai rencana, tidak apa-apa. Tidak harus sempurna, yang penting tetap bergerak maju—walau terkadang dengan langkah terseok-seok.
Di antara semua usaha untuk menjadi lebih baik, ada satu hal yang sering kita lupakan: memberi ruang bagi ketidaksempurnaan.
Kita hidup di era yang mengagungkan kesempurnaan. Media sosial penuh dengan orang-orang yang tampaknya selalu produktif, sehat, bahagia, dan sukses dalam segala hal. Namun, yang jarang ditampilkan adalah kelelahan mereka, ketakutan mereka, atau bahkan momen-momen ketika mereka juga merasa gagal. Kita melihat hasil akhir, tapi jarang melihat perjuangan di balik layar.
Maka, mari kita izinkan diri sendiri untuk tidak selalu baik-baik saja. Ada hari-hari ketika semangat tinggi, ada pula hari-hari ketika bangun dari tempat tidur saja sudah terasa berat. Dan itu tidak masalah. Hidup bukan hanya tentang terus bergerak maju, tapi juga tentang berhenti sejenak, menarik napas, dan memberi diri sendiri waktu untuk bernapas tanpa terburu-buru.
Mungkin ada resolusi yang gagal sebelum bulan pertama berakhir. Mungkin kita masih belum bisa disiplin mengurangi screen time. Mungkin ada hari di mana kita kembali bersikap keras pada diri sendiri. Tapi selama kita sadar, selama kita masih mencoba, kita sudah berada di jalur yang benar.
Karena menjadi lebih baik dari hari kemarin bukan tentang perubahan drastis atau kesuksesan instan. Itu tentang keberlanjutan. Tentang menyadari bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk belajar, mencoba lagi, dan menerima bahwa tidak semua harus sempurna.
Dan yang paling penting, kita tidak sendirian. Setiap orang sedang berusaha dengan caranya masing-masing. Kita tidak perlu berlomba-lomba menjadi yang terbaik lebih cepat dari orang lain. Kita hanya perlu menjadi lebih baik dalam versi kita sendiri, dengan ritme yang nyaman, dan dengan hati yang lebih ringan.
Jadi, tahun ini, mari kita jalani dengan lebih santai. Tetap mencoba, tetap melangkah, tetap tertawa meskipun sering kali hidup terasa absurd. Karena pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling sukses atau paling disiplin dalam resolusi tahun baru, tapi tentang siapa yang bisa menikmati perjalanan, menerima ketidaksempurnaan, dan tetap berani mencintai hidup dengan segala kekacauannya.[]