Bercerita sebagai Cara Efektif untuk Meningkatkan Ingatan

Sejumlah mahasiswa sedang berbincang hangat di kantin sekolah dengan suasana ramah dan akrab, mencerminkan kegiatan belajar informal melalui bercerita.
Suatu siang, dua mahasiswa sastra Prancis sedang makan di kantin. Di sela-sela suapan, mereka membicarakan buku-buku yang baru saja mereka baca. Mereka saling bertukar cerita, sudut pandang, dan poin-poin penting yang mereka temukan dalam bacaan. Aku masih mengingat cuplikan itu dari sebuah film yang pernah kutonton—sayangnya, aku sudah lupa judulnya.
 
Cuplikan itu tiba-tiba mengingatkanku pada suasana pelajar di tempatku. Di kantin, alih-alih membicarakan pelajaran atau sesuatu yang berkaitan dengan pelajaran atau pengembangan diri, mereka lebih sering bergosip atau berbagi cerita lucu.
 
Cerita lucu tentu bukan masalah, bahkan bisa jadi cara yang sehat untuk meredakan stres belajar. Tapi jika kebiasaan itu berlangsung setiap hari, dan perlahan menggantikan semangat untuk pengembangan diri dalam belajar, maka di situlah letak persoalannya.
 
Namun, tulisan ini bukan tentang makan siang atau isi obrolan ngalor-ngidul di kantin. Melainkan tentang cerita itu sendiri—tentang bagaimana bercerita, yang ternyata, bisa menjadi cara efektif untuk meningkatkan ingatan kita.
 
Beberapa tulisan menunjukkan satu hal menarik: bercerita dapat meningkatkan daya ingat. Hal ini selaras dengan konsep the protégé effect. Konsep ini menjelaskan bahwa mengajar adalah cara yang efektif untuk belajar.
 
Saat kita menjelaskan sesuatu kepada orang lain, kita justru makin memahaminya. Kita mengulang, menyusun ulang, dan menegaskan apa yang kita tahu. Tanpa sadar, kita sedang belajar lebih dalam.
 
Contohnya begini, kamu baru saja mempelajari cara kerja Google Drive. Rasanya kamu sudah paham—klik sini, unggah file, bagikan link. Tapi ketika temanmu bertanya, “Gimana sih cara pakainya dari awal?”, kamu mulai berpikir ulang. Kamu harus menjelaskan kenapa harus login dulu, bedanya antara upload dan share, serta cara mengatur akses file agar hanya bisa dibaca, bukan diedit. Dari sini, kamu mungkin sadar ada beberapa fitur yang belum kamu perhatikan sebelumnya. Ketika menjelaskan, kamu ikut menata ulang pengetahuanmu. Hasilnya: kamu bukan cuma makin paham, tapi juga makin percaya diri dengan pemahamanmu.
 
Nah, dari situ kita bisa melihat bahwa menjelaskan sesuatu sebenarnya adalah bentuk lain dari belajar. Ketika kita menceritakan ulang sesuatu kepada orang lain—baik itu berupa pengetahuan, pengalaman, atau konsep—kita sedang melibatkan ulang ingatan, menyusun ulang logika, dan memperkuat keterkaitan antarinformasi di dalam kepala kita.
Tulisan ini ingin mengajak untuk melihat kegiatan bercerita dari sisi yang berbeda—bercerita sebagai cara untuk belajar, memahami, dan mengingat lebih baik. Karena ternyata, saat kita menyusun kata untuk orang lain, kita sedang menyusun pemahaman untuk diri sendiri.

Hubungan antara Bercerita dengan Ingatan

Bukan sekadar hiburan, cerita nyatanya juga menjadi jembatan kuat antara pengetahuan dan ingatan. Ini karena cerita memiliki alur, tokoh, konflik, dan emosi—semua elemen itu menciptakan “jaring pengait” yang membuat informasi lebih melekat di kepala.
 
Penelitian dalam bidang neurosains menunjukkan bahwa ketika seseorang mendengar cerita yang menggugah, otaknya tidak hanya mencatat informasi—ia merasakannya. Emosi yang hadir dalam cerita, terutama yang menyentuh empati, mendorong pelepasan hormon oksitosin, zat kimia yang memperkuat rasa keterikatan sosial dan kepercayaan.
 
Di saat yang sama, cerita yang membangkitkan ketegangan atau kejutan memicu pelepasan dopamin—hormon yang meningkatkan perhatian dan memori. Inilah sebabnya mengapa kita lebih mudah mengingat kisah yang menyentuh hati ketimbang daftar fakta yang panjang.
 
Lebih dari itu, otak manusia memang dirancang untuk menyerap dunia dalam bentuk narasi. Pengalaman hidup kita secara alamiah terorganisir dalam bentuk "babak-babak" seperti cerita, dengan awal, tengah, dan akhir. Penelitian menunjukkan bahwa cara kita memproses cerita menyerupai cara otak kita menyusun kenangan. Cerita membantu otak mengaitkan potongan informasi menjadi satu kesatuan yang utuh—menjadikannya lebih mudah diingat dan diakses kembali.
 
Dalam dunia pendidikan, kekuatan ini semakin nyata. Siswa yang belajar melalui cerita, terutama lewat media audio-visual, menunjukkan daya ingat yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya menerima informasi secara verbal atau teks kering. Cerita menciptakan konteks, membangkitkan imajinasi, dan membuat informasi terasa hidup.
 
Cerita memberi konteks dan makna pada informasi. Ketika kita mendengar atau menyusun sebuah cerita, kita tidak hanya menyerap data, tetapi juga menyusunnya dalam struktur yang logis dan hidup. Alur naratif ini membantu otak membentuk hubungan sebab-akibat, mengenali pola, dan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada.
 
Tidak heran jika banyak guru dan dosen yang efektif justru dikenal karena kemampuannya bercerita. Mereka tidak hanya menyampaikan materi, tetapi menyulap pelajaran menjadi kisah yang menarik—dan karenanya, mudah diingat.

The Protégé Effect

The protégé effect adalah istilah yang menggambarkan fenomena menarik: seseorang belajar lebih efektif saat ia mengajarkan materi itu kepada orang lain. Dalam konteks bercerita, efek ini sangat relevan. Saat kita menceritakan kembali sesuatu yang telah kita pelajari, kita sedang berperan sebagai "pengajar" bagi pendengar kita.
 
Proses ini menuntut kita untuk memahami materi, menyusunnya ulang dengan bahasa kita sendiri, dan menyampaikan dengan cara yang masuk akal bagi orang lain. Tanpa sadar, kita sedang melakukan pengulangan aktif, membangun koneksi makna, dan mengevaluasi pemahaman kita sendiri.
 
Dengan kata lain, bercerita itu seperti belajar dua kali: pertama ketika menerima informasi, dan kedua ketika mengolah serta menyampaikannya. Inilah mengapa orang yang sering berdiskusi, bercerita ulang, atau mengajarkan materi biasanya punya pemahaman yang lebih mendalam dan ingatan yang lebih kuat terhadap materi tersebut.

Praktik dan Penerapan

Mengubah bercerita menjadi kebiasaan belajar bukan hal sulit. Kita bisa memulainya dari langkah-langkah sederhana dalam keseharian:
 
Menceritakan ulang pelajaran ke teman atau keluarga: Misalnya, setelah membaca buku atau mengikuti kelas, kita mencoba menceritakan isinya dengan bahasa kita sendiri.
 
Menulis catatan belajar dalam bentuk cerita: Alih-alih poin-poin, kita susun narasi pendek yang menjelaskan konsep secara runtut dan hidup. Ini bisa berbentuk tulisan reflektif atau cerita dengan tokoh imajiner yang menghadapi masalah yang bisa diselesaikan lewat konsep tersebut.

Diskusi kelompok dengan gaya naratif: Mengajak teman untuk berdiskusi bukan hanya dengan tanya jawab, tapi dengan saling menceritakan kembali apa yang dipahami dari materi. Lebih jauh, sekolah dan ruang belajar bisa mendorong penggunaan storytelling sebagai pendekatan pembelajaran. Misalnya, tugas presentasi yang tidak hanya menyampaikan data, tetapi juga mendorong siswa menyusun cerita dari perspektif tertentu, agar terjadi pemaknaan yang lebih dalam.

Penutup: Cerita sebagai Jembatan Ingatan

Belajar tak harus selalu serius dan kaku. Kadang, cukup dengan bercerita. Mengulang pelajaran lewat cerita membuat kita berpikir ulang, memahami lebih dalam, dan mengingat lebih lama. Cerita membawa emosi, alur, dan makna—itulah yang membuatnya melekat. Jadi, lain kali kamu selesai belajar, cobalah ceritakan ulang. Pada teman, keluarga, atau bahkan pada diri sendiri. Karena lewat cerita, kita bukan hanya berbagi, tapi juga bertumbuh.[]

Penulis: Abigail
Ilustrasi: Bercerita di Kantin/dibuat dengan AI
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan