Maaf yang Kosong
![]() |
Persimpangan Maaf: Antara Perubahan dan Pengulangan: ilustrasi oleh AI |
Oleh: Arizul Suwar
Banyak orang menganggap kata maaf sebagai kata ajaib untuk merawat keharmonisan hubungan—baik dalam persahabatan, asmara, maupun rumah tangga.
Seakan-akan, cukup dengan mengucapkannya, maka luka sembuh, kekecewaan hilang, dan segalanya kembali seperti semula.
Maaf dipercaya sebagai kunci keharmonisan. Sesederhana mengatakannya, lalu semuanya membaik. Itulah anggapannya.
Namun, benarkah demikian? Apakah hubungan bisa tetap utuh hanya dengan untaian kata yang tersusun dari huruf M-A-A-F? Apakah cukup dengan mengucapkannya, lalu semua kesalahan menghilang begitu saja?
Untuk memahami ini, mari kita mulai dengan sebuah cerita sederhana tentang anak-anak dan janji mereka.
Setiap kali ke pasar, Ibu selalu berpesan, “Jangan minta jajan banyak-banyak, ya.”
Anak-anaknya, seperti biasa, mengangguk patuh. “Iya, Bu. Kami janji.”
Namun, begitu tiba di pasar, mata mereka berbinar melihat deretan jajanan. Bau gorengan, es serut warna-warni, permen aneka bentuk—semuanya menggoda.
“Ibu, beli es krim, ya?”
“Ibu, aku mau yang itu juga!”
Ibu menghela napas. “Kalian kan sudah janji.”
Anak-anak saling pandang, lalu dengan wajah polos berkata, “Nanti kami janji lagi.”
Ibu tersenyum kecil, bukan karena luluh, tetapi karena sadar: janji bagi mereka hanyalah kata-kata. Tidak lebih.
Kata maaf sering kali seperti janji anak-anak itu.
Diucapkan dengan mudah, tanpa benar-benar dimaksudkan untuk dipegang.
Seseorang berbuat salah, lalu berkata, “Maaf.” Esoknya, ia mengulang kesalahan yang sama. Ketika ditegur, ia kembali berkata, “Maaf.”
Di tempat kerja, seorang rekan terus terlambat, tetapi setiap hari ia berkata, “Maaf, tadi macet.”
Dalam hubungan, seseorang terus menyakiti pasangannya, tetapi selalu berkata, “Maaf, aku tidak akan mengulanginya.”
Mereka semua mengucapkan maaf, tetapi apakah benar-benar berniat untuk berubah? Atau sekadar menjadikannya alasan agar kesalahan mereka tetap bisa dimaklumi?
Seperti anak-anak yang berjanji tak akan merengek minta jajan, tetapi tetap melakukannya, permintaan maaf yang tak diiringi perubahan tak lebih dari formalitas tanpa makna.
Sayangnya, masih banyak orang yang terjebak dalam anggapan bahwa maaf saja sudah cukup.
Padahal, realitas maaf bukan terletak pada kata-kata, melainkan pada tindakan.
Maaf yang sejati bukan sekadar diucapkan, tetapi dibuktikan dengan perubahan. Jika seseorang benar-benar menyesal, ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama.
Sebab, apa arti maaf jika ia hanya menjadi ritual kosong? Jika ia hanya menjadi pengulangan tanpa makna?
Jika maaf tanpa perubahan tetap diterima, bukankah itu sama saja memberi restu pada kesalahan?
Karena sejatinya, maaf bukan sekadar jeda sebelum kesalahan yang sama terulang kembali. Ia harus menjadi titik balik.[]
Seakan-akan, cukup dengan mengucapkannya, maka luka sembuh, kekecewaan hilang, dan segalanya kembali seperti semula.
Maaf dipercaya sebagai kunci keharmonisan. Sesederhana mengatakannya, lalu semuanya membaik. Itulah anggapannya.
Namun, benarkah demikian? Apakah hubungan bisa tetap utuh hanya dengan untaian kata yang tersusun dari huruf M-A-A-F? Apakah cukup dengan mengucapkannya, lalu semua kesalahan menghilang begitu saja?
Untuk memahami ini, mari kita mulai dengan sebuah cerita sederhana tentang anak-anak dan janji mereka.
Setiap kali ke pasar, Ibu selalu berpesan, “Jangan minta jajan banyak-banyak, ya.”
Anak-anaknya, seperti biasa, mengangguk patuh. “Iya, Bu. Kami janji.”
Namun, begitu tiba di pasar, mata mereka berbinar melihat deretan jajanan. Bau gorengan, es serut warna-warni, permen aneka bentuk—semuanya menggoda.
“Ibu, beli es krim, ya?”
“Ibu, aku mau yang itu juga!”
Ibu menghela napas. “Kalian kan sudah janji.”
Anak-anak saling pandang, lalu dengan wajah polos berkata, “Nanti kami janji lagi.”
Ibu tersenyum kecil, bukan karena luluh, tetapi karena sadar: janji bagi mereka hanyalah kata-kata. Tidak lebih.
Kata maaf sering kali seperti janji anak-anak itu.
Diucapkan dengan mudah, tanpa benar-benar dimaksudkan untuk dipegang.
Seseorang berbuat salah, lalu berkata, “Maaf.” Esoknya, ia mengulang kesalahan yang sama. Ketika ditegur, ia kembali berkata, “Maaf.”
Di tempat kerja, seorang rekan terus terlambat, tetapi setiap hari ia berkata, “Maaf, tadi macet.”
Dalam hubungan, seseorang terus menyakiti pasangannya, tetapi selalu berkata, “Maaf, aku tidak akan mengulanginya.”
Mereka semua mengucapkan maaf, tetapi apakah benar-benar berniat untuk berubah? Atau sekadar menjadikannya alasan agar kesalahan mereka tetap bisa dimaklumi?
Seperti anak-anak yang berjanji tak akan merengek minta jajan, tetapi tetap melakukannya, permintaan maaf yang tak diiringi perubahan tak lebih dari formalitas tanpa makna.
Sayangnya, masih banyak orang yang terjebak dalam anggapan bahwa maaf saja sudah cukup.
Padahal, realitas maaf bukan terletak pada kata-kata, melainkan pada tindakan.
Maaf yang sejati bukan sekadar diucapkan, tetapi dibuktikan dengan perubahan. Jika seseorang benar-benar menyesal, ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama.
Sebab, apa arti maaf jika ia hanya menjadi ritual kosong? Jika ia hanya menjadi pengulangan tanpa makna?
Jika maaf tanpa perubahan tetap diterima, bukankah itu sama saja memberi restu pada kesalahan?
Karena sejatinya, maaf bukan sekadar jeda sebelum kesalahan yang sama terulang kembali. Ia harus menjadi titik balik.[]