Malèna dan Kemunafikan Masyarakat: Refleksi Kecantikan, Hasrat, dan Luka yang Diingat

Malèna merupakan sebuah film asal Italia yang disutradarai oleh Giuseppe Tornatore. Film ini dibintangi oleh Monica Bellucci sebagai pemeran utama. Dirilis pada tahun 2000, film ini memiliki durasi 109 menit.

Penulis telah membaca beberapa ulasan tentang film ini. 
Ada yang membahas dorongan libido yang memengaruhi sikap para tokohnya. Ada pula yang melihat kecantikan Malèna sebagai kutukan yang membawa penderitaan. Ada juga yang menyoroti ketulusan dan kesetiaan di tengah tekanan sosial. Sementara itu, sebagian lainnya menyoroti posisi perempuan—sebagai korban, dan kadang juga sebagai pelaku dalam lingkaran pelecehan yang rumit.

Berbeda dari ulasan-ulasan sebelumnya, tulisan ini ingin menyoroti Malèna dari sudut pandang yang lain: kemunafikan masyarakat. Dalam film ini, mereka yang paling lantang berbicara soal moral justru diam-diam melakukan hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka agungkan. Di balik sorot mata yang tampak menghakimi, tersembunyi hasrat dan kebusukan yang enggan mereka akui.

Malèna dan Kemunafikan Masyarakat

Malèna adalah sebuah kisah tentang cinta, hasrat, dan luka sosial. Semuanya disampaikan melalui mata seorang bocah lelaki berusia 13 tahun bernama Renato Amoroso.

Latar cerita film ini berada di Castelcuto, sebuah kota kecil di Sisilia, Italia. Waktu itu adalah masa Perang Dunia II.

Film ini membuka cerita dengan kehadiran Malèna Scordia. Perempuan muda yang baru saja ditinggal suaminya, Nino Scordia, yang dikirim untuk bertugas dalam perang. Tepatnya sebagai bagian dari militer Italia di bawah rezim Mussolini, yang saat itu bersekutu dengan Nazi Jerman.

Malèna dianggap sebagai wanita tercantik di Castelcuto. Kehadirannya memunculkan berbagai reaksi dari orang-orang di sekitarnya.

Setiap langkahnya menarik perhatian. Orang-orang bereaksi dengan cara yang berbeda. Ada yang memuji. Ada yang mencibir. Ada yang diam-diam mengagumi. 

Salah satunya Renato. Sejak pertama kali melihatnya, Renato langsung jatuh cinta. Namun cinta itu tak bersuara. Hanya terwujud dalam tatapan diam-diam dan lamunan remaja.

Lewat mata Renato, penonton diajak untuk melihat sisi gelap masyarakat Castelcuto. Bagaimana orang-orang di sekitarnya—baik laki-laki maupun perempuan—terobsesi dan sekaligus membenci Malèna.

Para pria menginginkannya terang-terangan. Mereka menatapnya dengan hasrat yang tak disembunyikan. Sementara para wanita memandangnya dengan curiga. Bagi mereka, Malèna adalah ancaman. Simbol dari aib yang bisa merusak tatanan.

Padahal, Malèna tidak pernah berbuat macam-macam. Ia tak pernah merayu, tak pernah mengganggu. Yang ia lakukan hanyalah berjalan dengan wajah yang cantik, dan hidup seorang diri.

Inilah awal dari potret kemunafikan sosial yang ditampilkan film ini. Sebuah kemunafikan yang digambarkan dengan tajam dan puitis.

Warga kota yang setiap hari membicarakan moral dan kehormatan, justru menjadi pelaku kekerasan simbolik terhadap perempuan yang rentan.

Mereka menciptakan rumor. Mereka menghakimi tanpa dasar. Mereka menaruh beban sosial pada tubuh Malèna, seolah kecantikannya adalah sebuah dosa.

Tanpa pernah benar-benar mengenalnya, mereka membentuk citra yang kelam di benak masing-masing. Citra yang lahir dari prasangka, dan dipelihara oleh rasa iri serta ketakutan akan sesuatu yang tak bisa mereka kendalikan.

Malèna tidak berbicara banyak. Tapi diamnya justru membuat mereka semakin bising.

Ketika Malèna benar-benar jatuh miskin dan terasing, masyarakat tidak menunjukkan empati. Sebaliknya, mereka menjadikan penderitaannya sebagai pembenaran atas semua kebencian yang telah mereka tanam.

Saat kota jatuh ke tangan tentara Jerman, dan Malèna terpaksa menjual dirinya demi bertahan hidup, masyarakat justru menggunakan itu sebagai alasan untuk merendahkannya lebih dalam lagi.

Puncaknya adalah ketika para wanita menyeret Malèna ke jalan.

Mereka memukuli, menyobek-nyobek pakaiannya, mencukur rambutnya. Mereka mempermalukan Malèna di depan umum. Itu disebut sebagai bentuk “penghakiman moral”.

Padahal, sejatinya adalah proyeksi dari rasa iri dan frustrasi mereka sendiri.

Yang paling ironis adalah ini: ketika Malèna kembali bersama suaminya, setelah perang usai, orang-orang yang dulu menghinanya kini menyambut mereka dengan sopan. Dengan senyum. Dengan sapaan hangat. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada pengakuan atas kejahatan kolektif yang telah mereka lakukan.

Masyarakat dengan mudah menghapus jejak kekejaman mereka. Dan berpura-pura seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Lewat kisah ini, Malèna tidak hanya menyampaikan kisah tragis seorang perempuan yang dijadikan korban oleh lingkungannya. Film ini juga menyindir lapisan terdalam dari masyarakat yang munafik. Masyarakat yang berpura-pura menjaga moral, tapi justru menjadi pelaku penghancuran mental dan martabat manusia.

Penutup: Ingatan di Balik Kemunafikan

Malèna adalah kritik terhadap tatanan sosial yang bias gender. Kritik terhadap hasrat tersembunyi yang disangkal. Dan kritik terhadap kekerasan sosial yang dibungkus norma dan agama.

Renato, sang narator, tumbuh dari seorang bocah lugu menjadi seorang saksi bisu atas kebusukan dunia dewasa.

Cintanya kepada Malèna memang kekanak-kanakan. Namun kesadarannya tentang keadilan dan kemanusiaan tumbuh perlahan lewat luka-luka yang ia saksikan dalam diam. Masyarakat bisa lupa, tapi korban selalu mengingat. Luka itu abadi, meski mereka berpura-pura tidak pernah melukainya.

Ada sebuah kutipan menarik dari Renato di akhir film, "Waktu telah berlalu, dan aku telah mencintai banyak wanita. Dan saat mereka memelukku erat... dan bertanya apakah aku akan mengingat mereka, aku berkata, "Ya, aku akan mengingatmu." Namun satu-satunya yang tidak pernah kulupakan adalah dia yang tidak pernah bertanya... Malèna."[]


Penulis: Arizul Suwar
Ilustrasi: Malèna: Dalam Tatapan Kota yang Membisu/dibuat dengan AI
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan