Mengapa Anak-Anak Kehilangan Kepercayaan pada Kemampuan Diri Mereka?

Seorang remaja duduk menyendiri di lorong sekolah, dikelilingi simbol prestasi dan kerumunan murid lain yang berjalan seragam. Wajahnya menampakkan keraguan dan pencarian jati diri, dengan cahaya hangat menyiratkan harapan dan potensi yang belum tergali.
Beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan remaja yang prestasinya cukup membanggakan. Ia rajin, nilainya bagus, dan tampak seperti sosok ideal yang sering dibanggakan guru.

Tapi di balik semua itu, ia berkata pelan, dengan mata yang tak berani menatap penuh, “Aku sendiri tidak yakin bisa. Aku takut salah. Takut kalau apa yang kulakukan tidak sesuai harapan orang-orang.”

Waktu itu, aku hanya diam. Tapi dalam hati, aku tahu: ini bukan cerita satu orang. Ini cerita banyak anak muda hari ini. 

Jangankan orang lain, dia sendiri tidak percaya pada kemampuan dirinya. Itulah fenomena yang sering kutemukan akhir-akhir ini.

Anak-anak muda yang kehilangan keberanian menjadi diri sendiri. Takut salah. Takut berbeda. Takut ditertawakan. 

Mereka tumbuh dalam bayang-bayang standar yang bukan milik mereka. Dalam bisu yang terlatih, dalam senyum yang dipoles agar terlihat kuat.

Salah satu penyebabnya, menurutku, adalah keseragaman dalam pendidikan. Sejak kecil, anak-anak dibentuk untuk serupa. Didorong mengikuti jalur yang sudah digariskan. Bukan untuk menemukan jalannya sendiri, tapi agar cocok dengan cetakan.

Anak yang hafal cepat, patuh, dan dapat nilai tinggi disebut pintar. Anak yang banyak bertanya, berpikir beda, atau suka menantang justru dianggap pembangkang. Lama-lama, mereka belajar satu hal: menjadi seperti orang lain itu lebih aman.

Begitulah mental kerumunan lahir. Mereka tak lagi percaya suara hati. Yang dicari bukan kebenaran, tapi validasi. Bukan jati diri, tapi persetujuan. Kita membentuk generasi yang piawai menyesuaikan, tapi gagap saat diminta menentukan.

Padahal, pendidikan sejatinya membebaskan. Bukan menyeragamkan, tapi menumbuhkan. Bukan mencetak manusia serupa, tapi membantu setiap anak menjadi utuh sebagai dirinya sendiri.

Dalam tulisan ini, kita akan merefleksikan satu hal penting: mengapa kita sulit percaya pada diri sendiri?

Mungkin karena sejak kecil kita lebih sering diberi penilaian ketimbang diberi kesempatan mengenali diri.

Kita tumbuh dalam sistem yang lebih sibuk memberi ranking daripada mendengarkan isi hati. Alih-alih ditanya apa yang kita suka, kita malah disuruh mengejar apa yang dianggap penting oleh orang lain.

Kita juga terbiasa dipuji saat meniru, bukan saat mencipta. Diberi nilai baik saat setuju, bukan saat berbeda. Maka perlahan, kita belajar menyembunyikan pikiran sendiri. Kita berpura-pura setuju agar diterima. Kita pura-pura mampu agar terlihat hebat.

Ketidakpercayaan pada diri sendiri tumbuh dari luka-luka kecil yang tidak disadari. Saat ide ditertawakan. Saat mimpi diremehkan. Saat keberanian untuk bicara dianggap gangguan. Dari situlah lahir suara-suara kecil di dalam kepala yang berkata: “Aku tidak cukup pintar. Tidak cukup layak. Tidak cukup penting.”

Mental semacam ini ternyata tidak sepele, dampaknya tidak main-main. Ia menggerogoti keberanian, mematikan inisiatif, dan membuat seseorang hidup dalam ketergantungan pada pengakuan.

Banyak yang akhirnya tumbuh dewasa tanpa benar-benar mengenal siapa dirinya. Mereka belajar menyesuaikan, tapi tidak pernah belajar menentukan.

Orang-orang seperti ini mungkin terlihat baik-baik saja di luar. Bekerja, berprestasi, bahkan dipuji. Tapi di dalam, mereka rapuh. Takut gagal. Takut kehilangan muka. Takut membuat keputusan sendiri. Mereka lebih memilih ikut arus, sebab menjadi berbeda itu terlalu menakutkan.

Tak sedikit yang akhirnya merasa hidupnya hampa. Mengejar sesuatu yang bukan miliknya. Menjalani hidup dengan hati yang kosong, karena apa yang mereka jalani bukan lahir dari pilihan, melainkan dari tekanan.

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa kembali percaya pada diri sendiri?

Barangkali, kita perlu belajar mendengarkan lagi. Bukan mendengar tepuk tangan orang, bukan juga bisik-bisik penilaian di luar sana. Tapi mendengar suara paling jujur yang kerap kita abaikan: suara dari dalam diri. 

Membangun kepercayaan pada diri sendiri bukan tentang merasa paling hebat. Tapi tentang menerima bahwa kita punya potensi dan kekuatan, meski kadang belum sempurna. Bahwa kita boleh takut, tapi kita juga sanggup melangkah. Bahwa kesalahan bukan tanda kebodohan, melainkan jejak yang kita tempuh untuk tumbuh.

Dan jika kita ingin anak-anak lain tumbuh dengan kepercayaan diri, maka kita harus menciptakan ruang aman bagi mereka. Ruang untuk bertanya tanpa takut dicibir. Ruang untuk salah tanpa takut dihukum. Ruang untuk berbeda tanpa harus merasa bersalah.

Kita bisa mulai dari hal-hal kecil. Dari cara kita merespons cerita mereka. Dari cara kita memandang mata mereka saat berbicara. Dari cara kita berkata, “Aku percaya kamu bisa,” saat mereka ragu. 

Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana, tapi bagi seorang anak yang sedang tumbuh dan mencari pijakan, itu bisa menjadi pelita.

Anak-anak tidak butuh tuntutan untuk menjadi sempurna. Mereka butuh keyakinan bahwa dirinya cukup berharga, bahkan saat mereka masih mencari bentuk. Mereka tidak perlu terus dibandingkan, mereka hanya perlu diterima.

Kita mungkin tak mampu mengubah wajah pendidikan dalam semalam. Tapi kita bisa menjadi bagian dari perubahan itu, dengan menghadirkan lebih banyak kehangatan, lebih banyak kepercayaan, dan lebih banyak kasih sayang dalam setiap interaksi kita.

Sebab di tengah dunia yang sering menuntut anak-anak menjadi seragam, tugas kita adalah mengingatkan mereka bahwa menjadi diri sendiri adalah anugerah. Dan bahwa dunia ini, sejatinya, butuh lebih banyak manusia yang utuh—bukan yang sekadar cocok dengan cetakan.[]

Penulis: Abigail
Ilustrasi: Anak-anak kurang percaya pada kemampuan dirinya/dibuat dengan AI 
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan