Review Buku The Little Prince: Mengapa Imajinasi Hilang Saat Kita Dewasa?

Ilustrasi yang menunjukkan perbandingan antara dunia anak yang penuh warna, kupu-kupu, dan planet kecil dengan dunia orang dewasa yang kaku, dipenuhi angka dan grafik.

Saat masih kecil, anak itu menggambar ular boa yang menelan gajah. Tapi ketika ia menunjukkan gambarnya pada orang dewasa, mereka tidak mengerti dan menyuruhnya berhenti menggambar. Menyarankan agar ia belajar hal-hal “berguna” seperti ilmu bumi, sejarah, tata bahasa, dan matematika.

Merasa patah semangat, anak itu berhenti menggambar dan kelak tumbuh menjadi pilot. Namun, ia tetap menyimpan gambar itu dan sesekali menunjukkan atau membahasnya dengan orang-orang. Tapi, seperti sebelumnya, tak satu pun dari mereka yang memahami makna gambarnya.
 
Suatu hari, pesawatnya mengalami kerusakan dan ia terdampar di Gurun Sahara. Saat sedang memperbaiki pesawat, ia bertemu seorang anak kecil yang kelak dikenal sebagai pangeran cilik. Anak itu memintanya menggambar seekor domba. Sang pilot mengaku tak bisa menggambar domba dan malah menunjukkan gambar ular boa buatannya. Aneh, sang pangeran langsung memahami gambar itu. Meski begitu, ia tetap ingin digambarkan seekor domba.
 
Pilot mencoba menggambar beberapa domba, tapi semua ditolak. Akhirnya, ia menggambar sebuah kotak dan berkata bahwa domba yang diminta ada di dalam kotak itu. Pangeran cilik pun puas, karena ia benar-benar bisa melihat domba di dalamnya.
 
Hari-hari berikutnya mereka habiskan bersama di tengah gurun. Sang pilot mulai memahami bahwa anak ini bukanlah anak biasa, melainkan berasal dari planet kecil bernama Asteroid B-612, yang hanya sebesar rumah dan memiliki tiga gunung berapi.
 
Planet itu pernah ditemukan oleh seorang astronom Turki, tetapi karena penampilannya dianggap aneh, tak ada yang menggubris. Baru setelah pemerintah Turki memerintahkan rakyatnya berpakaian ala Eropa, penemuan itu diakui.
 
Aku menyebut detail seperti nama asteroid karena orang dewasa hanya percaya pada angka. Saat kita bercerita tentang seseorang, mereka tidak bertanya tentang suara tawanya, permainan favoritnya, atau apakah ia suka kupu-kupu. Mereka akan bertanya soal umur, jumlah saudara, berat badan, dan gaji ayahnya—seolah itu cukup untuk mengenal seseorang.
 
Jika kau berkata, “Aku melihat rumah indah dari bata merah muda dengan bunga kerenyam dan burung merpati di atapnya,” mereka tak akan bisa membayangkannya. Tapi jika kau bilang, “Rumah itu harganya 180 ribu franc,” barulah mereka akan berkata, “Wah, rumah yang bagus!”

Permasalahan Orang Dewasa 

Orang dewasa sering kali hanya melihat apa yang tampak. Mereka melihat garis-garis di kertas dan mengira itu adalah gambar topi, padahal si anak menggambar ular boa yang sedang menelan seekor gajah. Seperti yang dikisahkan: "Aku memperlihatkan mahakaryaku kepada orang-orang dewasa dan bertanya apakah gambar itu menakutkan mereka. Mereka menjawab, 'Mengapa topi akan menakutkan seseorang?'" Imajinasi anak tak dipahami, karena yang dilihat hanya permukaan.
 
Dunia orang dewasa terlalu sempit untuk menampung makna yang tak kasatmata.
Alih-alih mempertajam rasa dan daya cipta, anak itu justru disuruh mempelajari ilmu pasti—geometri, aritmetika, tata bahasa, ilmu bumi—karena dianggap lebih berguna.
 
Imajinasi dibiarkan layu. Seolah kreativitas adalah gangguan, bukan bekal untuk hidup. Maka ia berhenti menggambar dan menjadi pilot, meski diam-diam masih menyimpan gambar ular boa-nya, berharap suatu saat dipahami.
 
Orang dewasa sangat menyukai angka. Mereka ingin tahu: “Berapa umurnya? Berapa saudaranya? Berapa berat badannya? Berapa gaji ayahnya?” Tapi mereka tak pernah bertanya: “Apa yang ia sukai? Apa nada suaranya? Permainan apa yang paling disenanginya?” Angka memang memberi kepastian, tapi kerap membunuh rasa. Imajinasi dan keunikan perlahan tak diberikan nilai hanya karena tak bisa dihitung.
 
Seperti penemuan astronom Turki yang diabaikan hanya karena ia berpakaian aneh. “Untunglah ada seorang diktator Turki yang mewajibkan rakyatnya berpakaian seperti orang Eropa. Maka sang astronom mengulangi penemuannya dengan jas rapi dan dasi. Kali ini semua orang mendengarkan dia.” Dunia dewasa lebih menghargai tampilan daripada isi.
 
Namun, satu titik terang muncul. Di tengah gurun, sang pilot bertemu pangeran cilik yang memintanya menggambar seekor domba. Saat ia menunjukkan gambar ular boa yang dahulu tak pernah dipahami siapa pun, pangeran cilik langsung mengenalinya. “Tidak! Aku tidak mau gambar gajah di dalam ular boa. Ular boa itu terlalu berbahaya, dan gajah terlalu besar. Aku ingin seekor domba.” Dan untuk pertama kalinya, ada yang benar-benar memahami gambar itu.
 
Akhirnya, sang pilot menggambar sebuah kotak, dan mengatakan: “Ini adalah kotak. Dombamu ada di dalamnya.” Tak disangka, sang pangeran begitu senang. Ia tidak menertawakan, tidak meragukan. Ia percaya. Karena ia belum menjadi orang dewasa yang kehilangan kepekaan dan rasa percaya pada hal-hal yang tak tampak.
 
Begitulah, dunia orang dewasa sulit memahami keindahan sederhana. “Jika kalian berkata kepada orang dewasa, ‘Aku melihat rumah yang bagus, dibuat dari batu bata merah muda dengan bunga kerenyam di jendela dan burung merpati di atapnya…’, mereka tidak dapat membayangkan rumah itu. Kita harus berkata begini, ‘Aku melihat rumah seharga 180 ribu franc.’ Baru mereka akan berseru, ‘Aduh, betapa bagusnya!’” Dunia dewasa telah berpindah dari rasa ke harga, dari makna ke label.
 
Dan di situlah kerinduanku, pada cara anak-anak memandang dunia—yang tidak menilai dari harga, tidak menertawakan mimpi, dan tidak mematikan imajinasi. Dunia di mana seekor domba dalam kotak jauh lebih nyata daripada angka-angka yang hampa.

Mengapa Saat Dewasa Sulit Berimajinasi? 

Imajinasi adalah bahasa masa kecil. Namun seiring bertambahnya usia, bahasa ini perlahan terlupa. Kita tumbuh dalam dunia yang lebih menghargai logika daripada keajaiban, angka daripada rasa, dan hasil daripada proses. Mengapa bisa demikian?
 
Secara psikologis, Jean Piaget, seorang tokoh penting dalam psikologi perkembangan, menjelaskan bahwa imajinasi dan simbolisme sangat kuat pada tahap pre-operational (sekitar usia 2–7 tahun). Pada fase ini, anak melihat dunia dengan cara yang penuh keajaiban, imajinatif, dan personal.
 
Namun saat memasuki tahap concrete operational dan formal operational, anak mulai berpikir lebih rasional, konkret, dan sistematis. Dunia tidak lagi ditafsirkan melalui rasa dan imajinasi, melainkan melalui kaidah-kaidah yang “masuk akal.” Inilah awal dari menjauhnya manusia dari dunia batin dan simbol.
 
Filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, pernah mengatakan bahwa manusia dewasa sering terjebak dalam “keharusan-keharusan sosial” yang membunuh semangat bermain dan berimajinasi. Ia menyebut bahwa untuk mencipta, manusia harus menjadi seperti anak kecil lagi—bebas, jujur, dan penuh rasa ingin tahu.
 
Dalam pandangan Nietzsche, menjadi dewasa bukanlah soal meninggalkan masa kecil, melainkan soal kembali menemukan kekuatan kreatif dan otentik yang dahulu pernah dimiliki saat kecil.
 
Sementara itu, Erich Fromm, seorang filsuf sekaligus psikoanalis, menilai bahwa dunia modern membuat manusia menjadi makhluk yang having (memiliki), bukan being (menjadi). Imajinasi, bagi dunia modern, tidak menghasilkan sesuatu yang bisa dimiliki, dijual, atau dihitung. Maka ia dianggap tak berguna. Karena itu, masyarakat membentuk individu yang lebih menghargai status sosial, efisiensi, dan angka daripada kedalaman makna.
 
Orang dewasa tumbuh untuk takut pada kekaburan. Imajinasi dianggap terlalu liar, terlalu “tidak aman.” Maka mereka memilih yang pasti, yang bisa dijelaskan, yang sesuai aturan. Mereka menghindari pertanyaan seperti: “Apa makna bunga yang hanya mekar sesaat?”, dan lebih nyaman dengan pertanyaan: “Berapa lama bunga itu bisa bertahan?” Pertanyaan-pertanyaan eksistensial ditinggalkan, dan digantikan oleh soal ujian dan laporan keuangan.
 
Tapi seperti sang pangeran cilik, yang bisa melihat domba di dalam kotak, kita sebenarnya masih bisa mengakses dunia itu. Dunia yang melihat dengan hati, bukan hanya mata. Dunia yang mengizinkan makna hadir bahkan dalam hal-hal paling sederhana. Dunia di mana seekor domba dalam kotak bisa membuat seseorang tersenyum bahagia.

Menghidupkan Kembali Imajinasi

Untuk mengaktifkan kembali daya imajinasi seperti anak-anak, kita perlu belajar melambat dan menyimak. Dunia yang serba cepat seringkali membuat kita kehilangan kepekaan terhadap hal-hal kecil. Padahal, imajinasi tumbuh dari kesediaan untuk diam sejenak, mengamati detail, dan membiarkan keajaiban tumbuh dari hal-hal sederhana.
 
Pertama, kita perlu memberi ruang pada keheranan. Ajukan kembali pertanyaan-pertanyaan yang tampaknya “tak penting” yang dulu akrab di masa kecil: “Mengapa langit biru?”, “Apakah bunga bisa bermimpi?”, “Ke mana perginya suara setelah hilang?” Pertanyaan seperti ini tidak butuh jawaban yang pasti—justru dari ketidakpastian itulah imajinasi tumbuh.
 
Kedua, kita bisa mulai menulis, menggambar, atau bermain tanpa tujuan. Bukan untuk hasil yang bagus atau dipuji, tapi untuk bersenang-senang. Imajinasi tak butuh panggung besar; ia hanya butuh diizinkan hadir.
 
Ketiga, kita perlu belajar melihat dengan hati. Seperti kata sang pangeran kecil: “Hal-hal terpenting tak tampak oleh mata.” Dunia sering menilai dari apa yang terlihat, tapi keindahan sejati tersembunyi dalam makna, rasa, dan kepercayaan. Melatih empati, mendengarkan cerita orang lain, dan membayangkan bagaimana rasanya menjadi mereka, bisa menjadi jalan untuk membuka ruang batin yang selama ini tertutup.
 
Keempat, hindari terlalu cepat memberi label “berguna” atau “tidak berguna.” Imajinasi bukan tentang kegunaan dalam arti ekonomi, tapi tentang kedalaman dan daya cipta. Dunia dibangun bukan hanya oleh logika para insinyur, tapi juga oleh imajinasi para pemimpi.

Terakhir, bergaullah dengan anak-anak—atau orang-orang yang masih menyisakan anak kecil dalam dirinya. Dengarkan cara mereka bertanya, bercanda, dan melihat dunia. Mereka adalah guru keajaiban.[]

Penulis: Arizul Suwar
Ilustrasi: Perbandingan dunia anak-anak dengan dunia orang dewasa/dibuat dengan AI
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan