Untuk Apa Memiliki, Jika Kita Tak Pernah Hadir? Belajar Makna Kepemilikan dari Pangeran Cilik
Untuk Apa Memiliki, Jika Kita Tak Pernah Hadir?
“Aku mempunyai sekuntum bunga yang kusirami setiap hari... Tetapi kau tidak ada gunanya bagi bintang-bintangmu…”
Di salah satu perjalanannya, Pangeran Cilik bertemu dengan seorang pengusaha yang sibuk mencatat jumlah bintang di langit. Ia menghitung bintang-bintang itu dengan teliti, menyebut jumlah angka hingga ratusan juta, lalu menyimpannya dalam secarik kertas yang dikunci di laci.
“Aku memilikinya,” kata sang pengusaha bangga.
Namun ketika Pangeran Cilik bertanya apa gunanya memiliki bintang, pengusaha itu terdiam. Ia tidak bisa menyentuh, merawat, atau melakukan apa pun untuk bintang-bintang itu. Ia hanya mengklaim kepemilikan, tanpa kejelasan apakah dia bermakna bagi yang ia miliki.
Ini mirip dengan potret dunia kita hari ini? Sibuk mengejar kuantitas—tapi sering kali kehilangan esensi dari kepemilikan itu sendiri. Kita memiliki keluarga tapi jarang berbincang, mengejar harta tapi merasa semakin hampa, membeli rumah tapi jarang pulang.
Tulisan ini berangkat dari refleksi penulis dari kisah Pangeran Cilik ketika bertemu dengan seorang pengusaha di sebuah planet. Melalui tulisan ini, penulis mengajak pembaca untuk melihat kembali makna kepemilikan dalam hidup. Apa yang benar-benar kita miliki? Apakah yang kita kumpulkan memberi makna bagi kita—atau justru menjauhkan kita dari makna itu sendiri?
Dari cuplikan percakapan ini, Pangeran Cilik menyoroti perbedaan antara memiliki sesuatu dan benar-benar terhubung dengannya. Kepemilikan sejati bukan sekadar klaim atas sesuatu, tetapi keterlibatan di dalamnya.
Ia memiliki sekuntum bunga, dan itu berarti ia merawatnya. Menyirami setiap hari, melindunginya dari angin, dan memastikan ia tumbuh dengan baik. Begitu pula dengan gunung-gunung di planetnya, yang ia bersihkan secara rutin. Tetapi sang pengusaha? Ia hanya menghitung bintang dan mengklaimnya sebagai milik. Ia tidak pernah menyentuh, merawat, atau memberi arti bagi benda yang ia sebut sebagai miliknya.
Di salah satu perjalanannya, Pangeran Cilik bertemu dengan seorang pengusaha yang sibuk mencatat jumlah bintang di langit. Ia menghitung bintang-bintang itu dengan teliti, menyebut jumlah angka hingga ratusan juta, lalu menyimpannya dalam secarik kertas yang dikunci di laci.
“Aku memilikinya,” kata sang pengusaha bangga.
Namun ketika Pangeran Cilik bertanya apa gunanya memiliki bintang, pengusaha itu terdiam. Ia tidak bisa menyentuh, merawat, atau melakukan apa pun untuk bintang-bintang itu. Ia hanya mengklaim kepemilikan, tanpa kejelasan apakah dia bermakna bagi yang ia miliki.
Ini mirip dengan potret dunia kita hari ini? Sibuk mengejar kuantitas—tapi sering kali kehilangan esensi dari kepemilikan itu sendiri. Kita memiliki keluarga tapi jarang berbincang, mengejar harta tapi merasa semakin hampa, membeli rumah tapi jarang pulang.
Tulisan ini berangkat dari refleksi penulis dari kisah Pangeran Cilik ketika bertemu dengan seorang pengusaha di sebuah planet. Melalui tulisan ini, penulis mengajak pembaca untuk melihat kembali makna kepemilikan dalam hidup. Apa yang benar-benar kita miliki? Apakah yang kita kumpulkan memberi makna bagi kita—atau justru menjauhkan kita dari makna itu sendiri?
Ketika Memiliki Tak Lagi Berarti Merawat
“Aku, kalau mempunyai sehelai selendang, aku dapat melilitkannya di leher dan membawanya. Aku, kalau mempunyai sekuntum bunga, aku dapat memetiknya dan membawanya. Tetapi kau tidak dapat memetik bintang-bintang!”Dari cuplikan percakapan ini, Pangeran Cilik menyoroti perbedaan antara memiliki sesuatu dan benar-benar terhubung dengannya. Kepemilikan sejati bukan sekadar klaim atas sesuatu, tetapi keterlibatan di dalamnya.
Ia memiliki sekuntum bunga, dan itu berarti ia merawatnya. Menyirami setiap hari, melindunginya dari angin, dan memastikan ia tumbuh dengan baik. Begitu pula dengan gunung-gunung di planetnya, yang ia bersihkan secara rutin. Tetapi sang pengusaha? Ia hanya menghitung bintang dan mengklaimnya sebagai milik. Ia tidak pernah menyentuh, merawat, atau memberi arti bagi benda yang ia sebut sebagai miliknya.
Ketika Kepemilikan Menjadi Ilusi
Dalam kehidupan saat ini, ilusi kepemilikan ini sering kita temui. Berapa banyak orang yang memiliki rumah mewah, tetapi jarang menghabiskan waktu di dalamnya? Mereka mengisi rumah dengan furnitur mahal, tetapi mengabaikan kehangatan dan kebersamaan di dalamnya.Seorang ayah mungkin berkata bahwa ia “memiliki” anak, tetapi kehadirannya sebatas transfer uang saku setiap bulan. Ia tak tahu cerita apa yang anaknya sukai, lagu apa yang sering mereka dengarkan, atau bagaimana perasaan mereka hari ini.
Begitu pula dengan hubungan. Banyak orang menganggap memiliki pasangan sebagai kepastian, tetapi mereka lupa untuk merawat hubungan tersebut. Seiring waktu, komunikasi memudar, kebersamaan terasa hampa, dan akhirnya yang tersisa hanya status di media sosial—tanpa kedekatan emosional.
Rumah bukan sekadar bangunan, tetapi tempat yang menghangatkan. Anak bukan hanya tanggung jawab finansial, tetapi individu yang perlu didampingi. Pasangan bukan hanya status, tetapi seseorang yang butuh didengar dan diperhatikan.
Tanpa kehadiran, kepemilikan hanyalah ilusi. Sebagaimana sang pengusaha dalam cerita, kita bisa saja merasa memiliki banyak hal, tetapi tanpa keterlibatan, pada akhirnya kita tidak benar-benar memiliki apa pun, bukanlah kepemilikian jika ia hanya tersimpan pada secarik kertas.
“Dan apa gunanya menjadi kaya?”
“Untuk membeli bintang-bintang lain, jika ada yang menemukannya.”
Begitu pula dengan hubungan. Banyak orang menganggap memiliki pasangan sebagai kepastian, tetapi mereka lupa untuk merawat hubungan tersebut. Seiring waktu, komunikasi memudar, kebersamaan terasa hampa, dan akhirnya yang tersisa hanya status di media sosial—tanpa kedekatan emosional.
Memiliki Harus Berarti Merawat
Pangeran Cilik menunjukkan bahwa kepemilikan yang bermakna itu lahir dari keterlibatan. Jika kita benar-benar memiliki sesuatu, kita akan berusaha untuk menjaganya. Kita tidak sekadar menghitung aset, tetapi memastikan keberadaannya membawa kebaikan bagi kita dan sekitarnya.Rumah bukan sekadar bangunan, tetapi tempat yang menghangatkan. Anak bukan hanya tanggung jawab finansial, tetapi individu yang perlu didampingi. Pasangan bukan hanya status, tetapi seseorang yang butuh didengar dan diperhatikan.
Tanpa kehadiran, kepemilikan hanyalah ilusi. Sebagaimana sang pengusaha dalam cerita, kita bisa saja merasa memiliki banyak hal, tetapi tanpa keterlibatan, pada akhirnya kita tidak benar-benar memiliki apa pun, bukanlah kepemilikian jika ia hanya tersimpan pada secarik kertas.
Obsesi Menambah, Lupa Menyentuh
“Gunanya, aku kaya.”“Dan apa gunanya menjadi kaya?”
“Untuk membeli bintang-bintang lain, jika ada yang menemukannya.”
Sang pengusaha dalam Pangeran Cilik tidak puas dengan jumlah bintang yang telah ia “miliki.” Ia terus menghitung, terus menambah, tanpa pernah benar-benar berinteraksi dengan bintang-bintang itu. Ia terjebak dalam obsesi untuk memiliki lebih banyak, bukan untuk memahami atau merawat apa yang sudah dimilikinya.
Keberhasilan sering kali diukur dari seberapa banyak yang kita kumpulkan. Kita mengejar lebih banyak uang, lebih banyak followers, lebih banyak gelar, lebih banyak pencapaian. Tetapi, di tengah kesibukan itu, kita sering lupa untuk menyentuh dan menikmati apa yang sudah ada.
Seorang pekerja keras mungkin memiliki tabungan besar, tetapi tidak pernah menikmati waktu bersama keluarganya. Seorang influencer mungkin memiliki jutaan pengikut, tetapi tidak benar-benar terhubung dengan siapa pun. Seorang akademisi mungkin memiliki banyak gelar, tetapi tak pernah benar-benar mendalami satu pemikiran dengan penuh kesadaran.
Kita sering terjebak dalam siklus tak berujung. Menambah tanpa menikmati, memiliki tanpa merawat, mengumpulkan tanpa memahami.
Seorang yang terus membeli buku tapi tak pernah membacanya, apakah benar ia mencintai ilmu? Seorang yang memiliki banyak teman di media sosial tapi tak pernah berbicara dengan mereka, apakah benar ia punya hubungan yang bermakna?
Seorang yang bekerja tanpa henti demi masa depan tapi kehilangan momen berharga hari ini, apakah benar ia sedang menjalani kehidupan yang baik?
Akhirnya ini semua menjadi renungan besar, apa yang kita miliki seharusnya bukan tentang jumlah, tetapi tentang makna. Seperti yang dikatakan Pangeran Cilik kepada pengusaha, memiliki bukan sekadar mengumpulkan, tetapi juga memberi arti.
Pangeran Cilik mengajarkan satu hal penting: memiliki itu bukan tentang angka atau status, tetapi tentang kehadiran. Tentang perhatian. Tentang keterlibatan.
Ketika ia menyirami bunganya setiap hari dan membersihkan gunung-gunungnya, ia bukan hanya menunjukkan rasa memiliki, tapi juga rasa cinta. Ia hadir untuk apa yang ia miliki. Ia memberi makna melalui tindakannya yang sederhana namun penuh perhatian.
Sebaliknya, sang pengusaha hanya menyimpan bintang-bintangnya di atas kertas. Ia merasa kaya, tapi tak pernah benar-benar hadir bagi apa yang ia klaim sebagai miliknya.
Mungkin kita juga perlu bertanya pada diri sendiri, apakah kita hadir bagi hal-hal yang kita miliki? Apakah kita benar-benar menyentuh, merawat, dan memberi waktu bagi apa yang sudah ada dalam hidup kita—entah itu orang-orang terdekat, pekerjaan, atau bahkan diri sendiri?
Seorang pekerja keras mungkin memiliki tabungan besar, tetapi tidak pernah menikmati waktu bersama keluarganya. Seorang influencer mungkin memiliki jutaan pengikut, tetapi tidak benar-benar terhubung dengan siapa pun. Seorang akademisi mungkin memiliki banyak gelar, tetapi tak pernah benar-benar mendalami satu pemikiran dengan penuh kesadaran.
Kita sering terjebak dalam siklus tak berujung. Menambah tanpa menikmati, memiliki tanpa merawat, mengumpulkan tanpa memahami.
Hidup Bukan Sekadar Menghitung
Seperti yang dilakukan sang pengusaha, kita sering merasa bahwa dengan terus menambah sesuatu, kita akan merasa lebih utuh. Tapi apakah benar demikian?Seorang yang terus membeli buku tapi tak pernah membacanya, apakah benar ia mencintai ilmu? Seorang yang memiliki banyak teman di media sosial tapi tak pernah berbicara dengan mereka, apakah benar ia punya hubungan yang bermakna?
Seorang yang bekerja tanpa henti demi masa depan tapi kehilangan momen berharga hari ini, apakah benar ia sedang menjalani kehidupan yang baik?
Akhirnya ini semua menjadi renungan besar, apa yang kita miliki seharusnya bukan tentang jumlah, tetapi tentang makna. Seperti yang dikatakan Pangeran Cilik kepada pengusaha, memiliki bukan sekadar mengumpulkan, tetapi juga memberi arti.
Penutup: Hadir, Bukan Sekadar Memiliki
“Aku mempunyai sekuntum bunga yang kusirami setiap hari... Bagi bungaku dan bagi gunung-gunungku ada gunanya aku memilikinya. Tetapi kau tidak ada gunanya bagi bintang-bintangmu…”Pangeran Cilik mengajarkan satu hal penting: memiliki itu bukan tentang angka atau status, tetapi tentang kehadiran. Tentang perhatian. Tentang keterlibatan.
Ketika ia menyirami bunganya setiap hari dan membersihkan gunung-gunungnya, ia bukan hanya menunjukkan rasa memiliki, tapi juga rasa cinta. Ia hadir untuk apa yang ia miliki. Ia memberi makna melalui tindakannya yang sederhana namun penuh perhatian.
Sebaliknya, sang pengusaha hanya menyimpan bintang-bintangnya di atas kertas. Ia merasa kaya, tapi tak pernah benar-benar hadir bagi apa yang ia klaim sebagai miliknya.
Mungkin kita juga perlu bertanya pada diri sendiri, apakah kita hadir bagi hal-hal yang kita miliki? Apakah kita benar-benar menyentuh, merawat, dan memberi waktu bagi apa yang sudah ada dalam hidup kita—entah itu orang-orang terdekat, pekerjaan, atau bahkan diri sendiri?
Di zaman yang serba cepat ini, refleksi sederhana ini bisa menjadi pengingat yang lembut namun membekas. Lebih penting hadir sepenuh hati untuk satu hal, daripada memiliki segalanya tanpa benar-benar menyentuh apa-apa. Karena kehadiran adalah bentuk kepemilikan paling manusiawi.[]
Penulis: Arizul Suwar
Ilustrasi: Merawat dengan Hadir, Bukan Sekadar Memiliki/dibuat dengan AI