Yang Paling Dekat, yang Paling Sering Terlupa
![]() |
Ilustrasi dibuat dengan AI |
Oleh: Arizul Suwar
Yang Paling Dekat, yang Paling Sering Terlupa
Kita lebih senang menelisik kehidupan orang lain. Mengagumi perjalanan mereka. Tak jarang, kita membandingkan diri dengan mereka.Bisa jadi, karena kita melihat mereka dari kejauhan. Bukan soal jarak, melainkan karena kita tidak mampu melihat kehidupan mereka dengan utuh.
Di balik kekaguman itu, entah bagaimana, kita mengabaikan seseorang yang seharusnya lebih layak mendapatkan perhatian. Namun, dia kerap kita lupakan.
Dia yang selalu bersama. Yang muncul di depan cermin setiap kali kita berkaca. Yang mungkin lebih sering kita gerutu daripada kita terima.
Padahal, kalau ada satu orang yang paling layak kita kenal lebih dalam, itu adalah dia. Orang yang selalu ada, yang paling dekat. Orang yang selama ini kita abaikan.
Coba lihat lagi ke cermin. Tatap orang itu baik-baik. Dia punya cerita yang belum selesai. Dia punya mimpi yang mungkin terlupakan. Dia punya luka yang butuh diterima.
Kenalilah dia. Dengarkan suaranya. Pahami apa yang ia rasakan. Karena sebelum memahami orang lain, kita harus lebih dulu memahami diri sendiri.
Tulisan ini mengajak kita merenung: betapa seringnya kita melupakan diri sendiri, padahal sosok yang paling dekat adalah diri sendiri. Dialah yang pertama-tama harus dikenali dan dipahami. Dengan menerimanya, kita bisa menjalani hidup lebih utuh dan bermakna.
Mengapa Kita Lebih Penasaran dengan Orang Lain?
Sering kali, kita lebih tertarik dengan kehidupan orang lain ketimbang hidup kita sendiri. Kita mengamati, mengagumi, bahkan tak jarang iri. Kita bertanya-tanya, Bagaimana mereka bisa sampai di sana? Apa rahasia mereka?Barangkali, ini karena manusia adalah makhluk sosial yang secara alami memiliki rasa ingin tahu terhadap sesamanya. Namun, mengapa kita ingin tahu?
Bisa jadi, itu karena kita tidak mau berkonfrontasi dengan aspek diri yang sulit diterima. Sehingga memproyeksikan perasaan, keinginan, atau pun ketakutan bawah sadar pada orang lain. Sering kali, mengetahui hal-hal tentang hidup orang lain itu lebih menyenangkan.
Misalnya, seorang yang merasa hubungannya dengan pasangannya mulai memburuk, justru lebih sering membicarakan hubungan orang lain.
Ia berkata, “Eh, aku dengar si A lagi ribut sama pacarnya, pasti mereka gak akan lama deh!” Mungkin tanpa sadar, ia sedang mengungkapkan ketakutannya sendiri—bahwa hubungannya juga sedang tidak baik-baik saja. Namun, daripada berani menghadapi dan mencari jalan keluar, lebih mudah baginya untuk mengalihkan perhatian dengan membahas masalah orang lain.
Namun, tak bisa dipungkiri juga, rasa ingin tahu terhadap orang lain itu terkadang dipengaruhi oleh rasa tidak nyaman dan cemas jika harus mengintrospeksi diri sendiri.
Misalnya, Seorang pekerja yang merasa terjebak dalam rutinitas dan mulai mempertanyakan makna pekerjaannya, justru lebih sibuk membahas bagaimana koleganya sering berpindah-pindah kerja.
Namun, tak bisa dipungkiri juga, rasa ingin tahu terhadap orang lain itu terkadang dipengaruhi oleh rasa tidak nyaman dan cemas jika harus mengintrospeksi diri sendiri.
Misalnya, Seorang pekerja yang merasa terjebak dalam rutinitas dan mulai mempertanyakan makna pekerjaannya, justru lebih sibuk membahas bagaimana koleganya sering berpindah-pindah kerja.
Ia berkata, “Kenapa sih dia gak bisa setia di satu tempat? Kayaknya hidupnya gak stabil banget.” Padahal, mungkin sebenarnya ia iri karena koleganya punya keberanian untuk mencari tantangan baru, sesuatu yang ia sendiri takut untuk lakukan.
Kita tumbuh dalam masyarakat yang mengajarkan kita untuk memperhatikan dan menilai orang lain.
Sejak kecil, sadar atau tidak, kita seolah diajar untuk membandingkan: siapa yang lebih pintar, siapa yang lebih berbakat, siapa yang lebih sukses.
Namun, ada alasan lain yang lebih dalam. Kadang, kita lebih penasaran dengan kehidupan orang lain karena kita belum benar-benar memahami diri sendiri.
Di samping itu, kita sering kali hanya melihat sisi terang dari kehidupan orang lain. Apa yang mereka tunjukkan di media sosial, apa yang tampak dari luar.
Kita melihat hasil akhirnya—kesuksesan, kebahagiaan, pencapaian—tanpa benar-benar tahu apa yang sebenarnya mereka alami.
Kita terjebak dalam ilusi bahwa hidup orang lain lebih mudah, lebih menyenangkan, lebih sempurna. Padahal, setiap orang punya cerita yang tak selalu terlihat. Kita hanya melihat potongan kisah yang mereka izinkan untuk kita lihat.
Tetapi, adakah gunanya terus menerus mengamati kehidupan orang lain tanpa benar-benar memahami diri sendiri?
Mungkin, sudah saatnya kita alihkan perhatian dari luar ke dalam. Mengenali bukan hanya orang lain, tapi juga diri sendiri. Sebab di balik rasa penasaran terhadap kehidupan orang lain, ada satu sosok yang lebih penting untuk dipahami: diri kita sendiri.
Media sosial mempercepat arus ini, membuat kita terbiasa melihat ke luar, sibuk menjadi pengamat, menilai, dan membandingkan.
Sangat mungkin hidup kita sudah terasa cukup. Hingga sebuah postingan di media sosial tiba-tiba membuat kita ragu, bertanya-tanya, apakah yang kita miliki benar-benar cukup atau justru kurang dari yang seharusnya.
Sering kali, kita lebih memahami keinginan orang lain dibandingkan dengan keinginan kita sendiri. Kita lebih peduli pada ekspektasi dunia daripada suara hati kita. Kita sibuk mengejar pengakuan, hingga lupa bertanya: Apakah ini benar-benar yang aku butuhkan?
Bisa jadi, kita takut menghadapi diri sendiri. Sebab mengenali diri berarti juga menghadapi luka-luka yang pernah kita abaikan, ketakutan yang kita sembunyikan, dan harapan yang selama ini kita pendam.
Maka, kita memilih jalan yang lebih mudah: sibuk dengan dunia luar, alih-alih menelusuri dunia dalam diri. Namun, sejauh apa pun kita berlari, diri kita tetap menanti. Ia tetap ada di sana, menanti untuk didengarkan.
Saat kita benar-benar mengenali diri, kita tidak mudah terombang-ambing oleh penilaian orang lain. Kita tidak lagi merasa perlu membandingkan diri dengan mereka.
Kita memahami bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing, dan kita tidak harus menapaki jalan yang sama.
Mengenali diri bukan sekadar tahu apa yang kita suka atau tidak suka. Ini tentang memahami apa yang benar-benar penting bagi kita. Tentang menerima kekurangan tanpa merasa rendah diri, dan menghargai kelebihan tanpa merasa perlu memamerkannya pada dunia.
Lebih dari itu, menerima diri berarti berdamai dengan masa lalu. Menerima luka-luka yang pernah ada, kegagalan yang pernah terjadi, dan kesalahan yang telah dibuat. Sebab tanpa penerimaan, kita akan terus berlari dari bayangan sendiri, dan hidup terasa seperti kompetisi yang tak mengenal akhir.
Kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tapi kita bisa mengubah cara kita melihatnya. Dengan menerima diri, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh.
Ketika kita meluangkan waktu sendirian, tanpa gangguan dari hiruk-pikuk dunia luar, kita memiliki kesempatan untuk mendengar suara hati yang sering kali tertutup oleh kebisingan. Dalam keheningan, kita belajar memahami pikiran, perasaan, dan keinginan yang mungkin selama ini terabaikan.
Meluangkan waktu sendirian bukan berarti merasa kesepian. Justru, ini adalah saat di mana kita bisa terhubung lebih dalam dengan diri sendiri, tanpa distraksi atau tuntutan dari luar. Merenung, menulis, membaca, atau sekadar duduk dalam keheningan bisa menjadi cara untuk menggali pemahaman yang lebih dalam tentang siapa kita sebenarnya.
Kesendirian juga memberi kita kesempatan untuk menerima diri apa adanya, tanpa perlu berpura-pura atau mengikuti ekspektasi orang lain. Dalam kesendirian, kita belajar berdamai dengan ketidaksempurnaan, memahami bahwa kita tidak perlu menjadi seperti orang lain untuk merasa cukup.[]
Kita tumbuh dalam masyarakat yang mengajarkan kita untuk memperhatikan dan menilai orang lain.
Sejak kecil, sadar atau tidak, kita seolah diajar untuk membandingkan: siapa yang lebih pintar, siapa yang lebih berbakat, siapa yang lebih sukses.
Namun, ada alasan lain yang lebih dalam. Kadang, kita lebih penasaran dengan kehidupan orang lain karena kita belum benar-benar memahami diri sendiri.
Di samping itu, kita sering kali hanya melihat sisi terang dari kehidupan orang lain. Apa yang mereka tunjukkan di media sosial, apa yang tampak dari luar.
Kita melihat hasil akhirnya—kesuksesan, kebahagiaan, pencapaian—tanpa benar-benar tahu apa yang sebenarnya mereka alami.
Kita terjebak dalam ilusi bahwa hidup orang lain lebih mudah, lebih menyenangkan, lebih sempurna. Padahal, setiap orang punya cerita yang tak selalu terlihat. Kita hanya melihat potongan kisah yang mereka izinkan untuk kita lihat.
Tetapi, adakah gunanya terus menerus mengamati kehidupan orang lain tanpa benar-benar memahami diri sendiri?
Mungkin, sudah saatnya kita alihkan perhatian dari luar ke dalam. Mengenali bukan hanya orang lain, tapi juga diri sendiri. Sebab di balik rasa penasaran terhadap kehidupan orang lain, ada satu sosok yang lebih penting untuk dipahami: diri kita sendiri.
Mengapa Kita Sering Melupakan Diri Sendiri?
Kita hidup dalam dunia yang ramai. Setiap hari, kita disuguhi informasi tentang orang lain—tentang pencapaian, perjalanan, bahkan kehidupan rumah tangga mereka yang tampak lebih menarik daripada hidup kita sendiri.Media sosial mempercepat arus ini, membuat kita terbiasa melihat ke luar, sibuk menjadi pengamat, menilai, dan membandingkan.
Sangat mungkin hidup kita sudah terasa cukup. Hingga sebuah postingan di media sosial tiba-tiba membuat kita ragu, bertanya-tanya, apakah yang kita miliki benar-benar cukup atau justru kurang dari yang seharusnya.
Sering kali, kita lebih memahami keinginan orang lain dibandingkan dengan keinginan kita sendiri. Kita lebih peduli pada ekspektasi dunia daripada suara hati kita. Kita sibuk mengejar pengakuan, hingga lupa bertanya: Apakah ini benar-benar yang aku butuhkan?
Bisa jadi, kita takut menghadapi diri sendiri. Sebab mengenali diri berarti juga menghadapi luka-luka yang pernah kita abaikan, ketakutan yang kita sembunyikan, dan harapan yang selama ini kita pendam.
Maka, kita memilih jalan yang lebih mudah: sibuk dengan dunia luar, alih-alih menelusuri dunia dalam diri. Namun, sejauh apa pun kita berlari, diri kita tetap menanti. Ia tetap ada di sana, menanti untuk didengarkan.
Pentingnya Mengenali dan Menerima Diri Sendiri
Mengapa kita harus mengenali diri sendiri? Karena di sanalah awal dari ketenangan. Di dunia yang terus berubah, di tengah ekspektasi yang tak henti-hentinya menghampiri, satu-satunya tempat pulang yang sejati adalah diri sendiri.Saat kita benar-benar mengenali diri, kita tidak mudah terombang-ambing oleh penilaian orang lain. Kita tidak lagi merasa perlu membandingkan diri dengan mereka.
Kita memahami bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing, dan kita tidak harus menapaki jalan yang sama.
Mengenali diri bukan sekadar tahu apa yang kita suka atau tidak suka. Ini tentang memahami apa yang benar-benar penting bagi kita. Tentang menerima kekurangan tanpa merasa rendah diri, dan menghargai kelebihan tanpa merasa perlu memamerkannya pada dunia.
Lebih dari itu, menerima diri berarti berdamai dengan masa lalu. Menerima luka-luka yang pernah ada, kegagalan yang pernah terjadi, dan kesalahan yang telah dibuat. Sebab tanpa penerimaan, kita akan terus berlari dari bayangan sendiri, dan hidup terasa seperti kompetisi yang tak mengenal akhir.
Kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tapi kita bisa mengubah cara kita melihatnya. Dengan menerima diri, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh.
Mengenali Diri melalui Kesendirian
Kesendirian sering kali dianggap sebagai sesuatu yang menyedihkan. Padahal, dalam kesendirian, kita justru bisa menemukan ruang untuk benar-benar mengenali diri sendiri.Ketika kita meluangkan waktu sendirian, tanpa gangguan dari hiruk-pikuk dunia luar, kita memiliki kesempatan untuk mendengar suara hati yang sering kali tertutup oleh kebisingan. Dalam keheningan, kita belajar memahami pikiran, perasaan, dan keinginan yang mungkin selama ini terabaikan.
Meluangkan waktu sendirian bukan berarti merasa kesepian. Justru, ini adalah saat di mana kita bisa terhubung lebih dalam dengan diri sendiri, tanpa distraksi atau tuntutan dari luar. Merenung, menulis, membaca, atau sekadar duduk dalam keheningan bisa menjadi cara untuk menggali pemahaman yang lebih dalam tentang siapa kita sebenarnya.
Kesendirian juga memberi kita kesempatan untuk menerima diri apa adanya, tanpa perlu berpura-pura atau mengikuti ekspektasi orang lain. Dalam kesendirian, kita belajar berdamai dengan ketidaksempurnaan, memahami bahwa kita tidak perlu menjadi seperti orang lain untuk merasa cukup.[]